Konsep Diri
Dari teori ini saya mencoba mengkaitkan dengan pengajaran gambar diri yang pernah saya dengar sebelumnya. Pengajaran ini menjelaskan bahwa manusia di ciptakan sempurna dan unik satu sama lain. Sampai disini saya setuju, namun kemudian point berikut yang coba ditanamkan adalah setiap kita "berharga". Hal ini yang kemudian membuat saya berpikir, konsep "berharga" sudah terbentuk sedemikian rupa oleh proses interaksi sosial (seperti yg dijelaskan diatas) menjadi suatu simbol yang sudah disepakati bersama (memiliki nilai dan standart tertentu bagaimana suatu entitas dikatakan berharga).
Konstruksi Realitas
Simbol sebagai makna yang disepakati bersama, ternyata juga bisa dengan sengaja dibentuk. Untuk melakukan pembentukan kesepakatan makna bersama, tentunya dibutuhkan strategi dan tools yang powerful juga misal: media. Contoh: Mattel Toy Company menciptakan boneka barbie yang kemudian dikemas dalam sebuah film dengan cerita yang dramatis, dsb. Coba kita lihat dari dampak adanya film tersebut, tanpa kita sadari ternyata Amerika mampu menciptakan makna bersama (simbol) kecantikan adalah seperti barbie! Dan mereka berhasil. Simbol cantik yang di gambarkan pada barbie adalah kulit putih, badan kurus, hidung mancung, rambut pirang, dsb. Terlepas dari pemikiran adanya konspirasi Amerika, kita bisa lihat dari bagaimana mereka memasuknya konsep "cantik" dalam persepsi semua orang pada saat itu melalui media. Kembali kepada pengajaran tentang gambar diri. Pesan yang insepsikan kepada setiap orang dalam pengajaran ini adalah anda "berharga apa adanya". Itu artinya saya dapat mengasumsikan, pengajaran ini mencoba mengkonstruksi realitas bahwa dengan "apa adanya" anda sekarang, anda "berharga". Nah, pertimbangan saya sbb: konstruksi relitas yang diinsepsikan mungkin berhasil. Tapi perlu di ingat, makna "berharga" hanya akan terbatas pada kalangan terbatas saja (lingkungan komunitas pengajaran) hal ini menjadi masalah ketika orang bersangkutan, berinteraksi dengan lingkungan luar komunitas. Sudah dapat dipastikan, makna "berharga" itu luntur dengan sendirinya.
Saya hanya mencoba melihat dari sisi logis dan realita yang terjadi. Saran saya adalah, lakukan perubahan dari dalam diri dengan motivasi menjadi orang yang lebih baik setiap hari, agar kita bisa memainkan "peran" sebagai orang yang berharga di panggung sandiwara ini.
Refrensi:
Griffin, E. (2012). A First Look At Communication
Theory. New York: McGraw-Hill.
No comments:
Post a Comment